Untuk Selengkung senyumanmu…
Makna apa yang tersentuh pada setiap barisnya,
Uraikan air mata yang mengalir disela pipimu,
Tetesannya menggali sebuah tanya.
Bila hidup tak semanis tebu,
Bisakah hembusan kata ku hirup juga.
Aku hanya sebuah tatapan yang mengajakmu bertaut bersama mimpi,
Hanya mimpi indah,
Menghapus aliran tangis pada mentari,
Hanya demikianlah tujuanku.
Kau boleh menuduhku pecundang,
Kau bisa menamparku sekarang.
Ingatlah satu hal,
Dibalik sikap pecundangku,
Aku hanya bisa mempertahankan nuraniku.
Karena itu hanya selengkung senyumanmu,
Aku berarti.
Untuk itu aku ada disampingmu,
Ikut tersenyum,
Diantara silir-silir angin dan cahaya matahari yang menghempas.
Rabu, 09 Desember 2009
Jumat, 30 Oktober 2009
Aloycia Devi's Present
Karena Itulah Penyesalan Selalu Ada Diakhir, Tidak Pada Awal!
lewat sebuah pandangan,
aku menghentak sebuah harapan.
karena atas dasar perasaan ini,
aku mengagumi.
seonggok cahaya dalam sebuah kerapatan hati,
menepi pada nurani.
aku kembali melihat decak senyumanmu,
dan mulai mengagumimu.
entah pada perasaan yang tak bisa dipercaya,
aku hanyut dalamnya.
hanyut lagi,
kemudian kembali tak berarti.
sebuah duka pernah terlukis dalam kecewa,
lalu apa itu kah yang kemudian menghalangi?
aku mengerang sendiri dalam berbagai rasa yang kemudian tak nyata,
apa jadinya ini?
sampah dari sebuah kegembiraan adalah patah,
pada nurani dan logika.
kembalikan renungan yang membuatku sadar,
sepertinya aku berada pada lajur yang salah.
yah,,,
seperti yang tak pernah terpikirkan,
hanya saja kejadian itu terlalu hebat untukmu.
karena itulah penyesalan selalu ada diakhir,
tidak pada awal!
yogyakarta 30.10.09
21:02
lewat sebuah pandangan,
aku menghentak sebuah harapan.
karena atas dasar perasaan ini,
aku mengagumi.
seonggok cahaya dalam sebuah kerapatan hati,
menepi pada nurani.
aku kembali melihat decak senyumanmu,
dan mulai mengagumimu.
entah pada perasaan yang tak bisa dipercaya,
aku hanyut dalamnya.
hanyut lagi,
kemudian kembali tak berarti.
sebuah duka pernah terlukis dalam kecewa,
lalu apa itu kah yang kemudian menghalangi?
aku mengerang sendiri dalam berbagai rasa yang kemudian tak nyata,
apa jadinya ini?
sampah dari sebuah kegembiraan adalah patah,
pada nurani dan logika.
kembalikan renungan yang membuatku sadar,
sepertinya aku berada pada lajur yang salah.
yah,,,
seperti yang tak pernah terpikirkan,
hanya saja kejadian itu terlalu hebat untukmu.
karena itulah penyesalan selalu ada diakhir,
tidak pada awal!
yogyakarta 30.10.09
21:02
Jumat, 09 Oktober 2009
Aloycia Devi's Present
AKHIR JIWA
Awan itu mengalir begitu menggebu ,
Ketika rumput itu terayun mengikuti hirupan angin,
“Mengapa bisa?.”
Deru redam suara air itu memberiku ketenangan,
Ketika pohon pisang itu,
Adalah pohon terakhir yang aku tebang,
Apakah aku peduli,
Peduli dalam rendah hatiku,
Tebing-tebing itu membawa ketetapanku longsor,
Saat kau dan aku memelototi hutan-hutan yang begitu suram.
Awan itu mengalir begitu menggebu ,
Ketika rumput itu terayun mengikuti hirupan angin,
“Mengapa bisa?.”
Deru redam suara air itu memberiku ketenangan,
Ketika pohon pisang itu,
Adalah pohon terakhir yang aku tebang,
Apakah aku peduli,
Peduli dalam rendah hatiku,
Tebing-tebing itu membawa ketetapanku longsor,
Saat kau dan aku memelototi hutan-hutan yang begitu suram.
Sabtu, 08 Agustus 2009
Aloycia Devi's present.,
Berharap pada Dawai yang bergetar....
bersungut mengupas luka2 hati...
berkata dalam seruan cahaya..\
aku bercanda bersama angsa putih..
berbeda dengan dia..
cintanya hanya pada burung merak yang cantik itu..
mungkin tak seabadi aku.\
tapi satu..
berharaplah akan cintanya..
aku berseru bersama aliran air..
menjalani betapa kalbu mencintai hari yang suram..
itu perkataanmu..
tapi satu perkataanku...\
aku berjuang untuk hati yang hina ini..
berkata untuk membela kalbu yang hitam ini..
apa maksud semua kala itu bersanding..
aku tak seharga segenggam emas..
tak bisa kau beli dengan berlian...
bahkan kebahagiaan yang tak ada artinya itu...
salah besar jika aku menganggap semua fakta...
cintamu palsu...
bahkan gutar yang tek berdawai pun bisa menjawab semua kepalsuanmu..
dahulu aku takut...
sekarang..
TIDAK SAMA SEKALI...
bersungut mengupas luka2 hati...
berkata dalam seruan cahaya..\
aku bercanda bersama angsa putih..
berbeda dengan dia..
cintanya hanya pada burung merak yang cantik itu..
mungkin tak seabadi aku.\
tapi satu..
berharaplah akan cintanya..
aku berseru bersama aliran air..
menjalani betapa kalbu mencintai hari yang suram..
itu perkataanmu..
tapi satu perkataanku...\
aku berjuang untuk hati yang hina ini..
berkata untuk membela kalbu yang hitam ini..
apa maksud semua kala itu bersanding..
aku tak seharga segenggam emas..
tak bisa kau beli dengan berlian...
bahkan kebahagiaan yang tak ada artinya itu...
salah besar jika aku menganggap semua fakta...
cintamu palsu...
bahkan gutar yang tek berdawai pun bisa menjawab semua kepalsuanmu..
dahulu aku takut...
sekarang..
TIDAK SAMA SEKALI...
Sabtu, 25 Juli 2009
Aloycia Devi's Presents
SEIRING DEBUR OMBAK MENYAPU JUTAAN PASIR,
BAGAI AKU DAN KAKIKU YANG TENGGELAM DALAM LAUTAN AIR,
BISAKAH PERASAAN INI BEBRBALIK DENGAN HIRUPAN SENJA,
AKU DAN ANGIN PANTAI TERUS MENYANYI,
MELIHAT RINTIKAN EMBUN SETELAH DEBUR OMBAK TERHEMPAS,
AKU TERSADARDARI JUTAAN MIL MIMPI YANG KURAJUT MALAM TADI,
AKANKAH DIA TERUS BERKATA DALAM SENJA,
INGATLAH AKU AKAN SELALU ADA SEPERTI BUSA DITEPI PANTAI,
BILA SAATNYA TIBA,
PANTAI TIDAK BUTUH LAGI SINAR MATAHARI YANG MENYERANGNYA,
LALU AKU DIAM DALAM BISU BAHASA,
HINGGA ANGANKU TERSAPU OLEH OMBAK.
BAGAI AKU DAN KAKIKU YANG TENGGELAM DALAM LAUTAN AIR,
BISAKAH PERASAAN INI BEBRBALIK DENGAN HIRUPAN SENJA,
AKU DAN ANGIN PANTAI TERUS MENYANYI,
MELIHAT RINTIKAN EMBUN SETELAH DEBUR OMBAK TERHEMPAS,
AKU TERSADARDARI JUTAAN MIL MIMPI YANG KURAJUT MALAM TADI,
AKANKAH DIA TERUS BERKATA DALAM SENJA,
INGATLAH AKU AKAN SELALU ADA SEPERTI BUSA DITEPI PANTAI,
BILA SAATNYA TIBA,
PANTAI TIDAK BUTUH LAGI SINAR MATAHARI YANG MENYERANGNYA,
LALU AKU DIAM DALAM BISU BAHASA,
HINGGA ANGANKU TERSAPU OLEH OMBAK.
Selasa, 07 Juli 2009
Menjadi nyata semua asa yg palsu..
Mengukir rasa kala aku mentukan reruntuhan kalbu..,
aku bersama kenangan yg lama telah mati,menyambut rindu dlm kalbu..
aku tahu..
Walau berkhayal lewat saku yg syahdu...,
Mengukir rasa kala aku mentukan reruntuhan kalbu..,
aku bersama kenangan yg lama telah mati,menyambut rindu dlm kalbu..
aku tahu..
Walau berkhayal lewat saku yg syahdu...,
Senin, 18 Mei 2009
Aloycia Devi's Present
Bersatu Ragaku dalam Jeritan Harap
Berbalik arah menentukan langkah..
Kala suram suara menyatukan kedalaman kalbu..
Aku berbisik pada butiran embun..
Lalu hamparan padi pun menjawabnya..
Arah yang tiba-tiba merasakan sentakan..
Kecil getarannya..
Sehingga harapmu tak surut..
Tangismu tak juga tiba menetes..
Ribuan kicau jangkrik menghibur kalbu..
Gulatan ulat daun menghantar tarian tawamu..
Lewati segaris penghidupan yang sama..
Tidak putus asa mu mencari..
Selalu syukur menguntai dari bibirmu..
Aku hanya setetes air yang menetes dalam guratan senyummu..
Biarkan kulitini terbakar..
Sarena untuk itulah hidupku dibuat..
Selalu keras makna hidup yang menimpamu..
Kabar mengulingkan seutas pnantianmu..
Ada apa dibalik ini semua?? Kata terus menentukan tatapan..
Hanya itu yang bernilai menurutmu..
Yang kau anggap harta hanya hari ini..
Apa arti lusa dan seterusnya...
Buyar semua kala satu ungkapan menyentuh dedaunan..
Secangkir bapat ku telan..
Tapi kamu..
Hanya setetes milikmu..
Bisa-bisanya Luka itu kau kupas menjadi suka..
Bernafas lewat hujan yang turun..
Aliran selalu membawa bahagia turun padanya..
Satu selalu ku unggkap selalu..
Nyatakan kesungguhan..
Walau tangis menghajar..
Menerjang...
Walau tombak menyatu menusukmu..
Kau kebal...
Membawa gembira menuju surga..
Hidupmu kelam..
Bukan berarti jiwamu mati tanggelam..
Menitihkan peluh..
Selalu ada di dahimu yang berkerut..
Suara itu membawa air memanggil cahaya bulan..
Matahari pun kalah meredup..
Walau hantaman derita kau ambil..
Hantaman kebengisan mereka kau pungut..
Kadang penghargaan terhadapmu kurang bersahabat...
Tapi kesabaran seolah mengguruimu..
Menjadikanmu tak kenal lelah menanti..
Untuk tujuan hari ini..
Tak besok, lusa atau bulan-bulan yang akan datang..
Sungguh mulia maksud dan tujuan..
Sehingga tak jarang kau tersingkirkan..
Rona mata selalu mengusap arti..
Kasih..
Selalu menjuntai atas cinta..
Itulah satu..
Ajaran kebanggaan milikmu...
Kepekaan sudah terbiasa menyentuhmu..
Kebahagiaan tak juga memelukmu erat..
Tapi..
Tak enggan kau menantinya..
Selalu besar api yang menyulut harapanmu itu..
Aku pun tak mau kalah..
Tapi hidupku tak bersama dengan garis hidupmu..
Akan ku usahakan...
Agar kau bisa mengubah aliran yang kau buat..
Tak perlu bersahabat pada lelah..
Tak perlu mengadu pada pikiran yang payah..
Bisakah aku memintanya dalam penat?
Selalu tanya yang ada..
Menyulam benang pada roda kehidupan..
Menambal jalan yang sudah tergali..
Tak benci pada gagal yang menerkam..
Adakah setajuk berita mengungkap kabar kasih yang kau lukis..
Tidak dalam kanvas putih..
Namun hitam..
Kau lukis lagi dengan cat putih..
Lupakan saja aku..
Berat bebanmu setelah ku datang padamu..
Menurutmu tidak..
Sendu mengaringi jalan sendiri..
Tak tersurat derita yang kau alami..
Memang begini hasilnya..
Tidak di dunia..
Bagimu di Surga lebih indah..
Inilah seutas senyuman yang ku tinggalkan untuk kasihmu..
Tersenyumlah walau dalam hatimu menangis..
Bersuka lah walau dalam lipatan garis wajahmu terselip duka..
Sebab untuk itulah perjuanganmu..
Bahagiaku adalah bahagiamu..
Dan lewat jiwamu, jiwaku hidup..
Apakah aku??
Sebongkah batu dan sia-sia tanpamu..
Trimakasih,,
Karena itulah kau dikenang..
Satuhal yang saya dapatkan dalam kehidupan saya. Betapa mudahnya mencintai orang lain. Tapi tak semudah itu kita mendapat balasannya. Hidup seorang petani telah membuat saya terinspirasi untuk membangun menara dalam hidup saya. Menara kokoh hingga ujung langit tempat cita-cita saya menggantung. Sikap tekun dan semangat yang tinggi mampu membuat harapan seorang petani yang kecil terus berkembang besar. Walau sebenarnya Indonesia adalah negara Agraris tapi penghargaan terhadap agraria di Indonesia sendiri kurang. Bahkan tidak ada. Saya terus melihat hidup yang sederhana seperti ini bukan hanya sebagai penderitaan, tetapi lebih pada pembelajaran hidup yang selalu bergantung pada roda kehidupan. Harapan saya semoga mereka selalu terkenang dalam hati. Karena pengorbanan yang mereka berikan tidak kecil.
Berbalik arah menentukan langkah..
Kala suram suara menyatukan kedalaman kalbu..
Aku berbisik pada butiran embun..
Lalu hamparan padi pun menjawabnya..
Arah yang tiba-tiba merasakan sentakan..
Kecil getarannya..
Sehingga harapmu tak surut..
Tangismu tak juga tiba menetes..
Ribuan kicau jangkrik menghibur kalbu..
Gulatan ulat daun menghantar tarian tawamu..
Lewati segaris penghidupan yang sama..
Tidak putus asa mu mencari..
Selalu syukur menguntai dari bibirmu..
Aku hanya setetes air yang menetes dalam guratan senyummu..
Biarkan kulitini terbakar..
Sarena untuk itulah hidupku dibuat..
Selalu keras makna hidup yang menimpamu..
Kabar mengulingkan seutas pnantianmu..
Ada apa dibalik ini semua?? Kata terus menentukan tatapan..
Hanya itu yang bernilai menurutmu..
Yang kau anggap harta hanya hari ini..
Apa arti lusa dan seterusnya...
Buyar semua kala satu ungkapan menyentuh dedaunan..
Secangkir bapat ku telan..
Tapi kamu..
Hanya setetes milikmu..
Bisa-bisanya Luka itu kau kupas menjadi suka..
Bernafas lewat hujan yang turun..
Aliran selalu membawa bahagia turun padanya..
Satu selalu ku unggkap selalu..
Nyatakan kesungguhan..
Walau tangis menghajar..
Menerjang...
Walau tombak menyatu menusukmu..
Kau kebal...
Membawa gembira menuju surga..
Hidupmu kelam..
Bukan berarti jiwamu mati tanggelam..
Menitihkan peluh..
Selalu ada di dahimu yang berkerut..
Suara itu membawa air memanggil cahaya bulan..
Matahari pun kalah meredup..
Walau hantaman derita kau ambil..
Hantaman kebengisan mereka kau pungut..
Kadang penghargaan terhadapmu kurang bersahabat...
Tapi kesabaran seolah mengguruimu..
Menjadikanmu tak kenal lelah menanti..
Untuk tujuan hari ini..
Tak besok, lusa atau bulan-bulan yang akan datang..
Sungguh mulia maksud dan tujuan..
Sehingga tak jarang kau tersingkirkan..
Rona mata selalu mengusap arti..
Kasih..
Selalu menjuntai atas cinta..
Itulah satu..
Ajaran kebanggaan milikmu...
Kepekaan sudah terbiasa menyentuhmu..
Kebahagiaan tak juga memelukmu erat..
Tapi..
Tak enggan kau menantinya..
Selalu besar api yang menyulut harapanmu itu..
Aku pun tak mau kalah..
Tapi hidupku tak bersama dengan garis hidupmu..
Akan ku usahakan...
Agar kau bisa mengubah aliran yang kau buat..
Tak perlu bersahabat pada lelah..
Tak perlu mengadu pada pikiran yang payah..
Bisakah aku memintanya dalam penat?
Selalu tanya yang ada..
Menyulam benang pada roda kehidupan..
Menambal jalan yang sudah tergali..
Tak benci pada gagal yang menerkam..
Adakah setajuk berita mengungkap kabar kasih yang kau lukis..
Tidak dalam kanvas putih..
Namun hitam..
Kau lukis lagi dengan cat putih..
Lupakan saja aku..
Berat bebanmu setelah ku datang padamu..
Menurutmu tidak..
Sendu mengaringi jalan sendiri..
Tak tersurat derita yang kau alami..
Memang begini hasilnya..
Tidak di dunia..
Bagimu di Surga lebih indah..
Inilah seutas senyuman yang ku tinggalkan untuk kasihmu..
Tersenyumlah walau dalam hatimu menangis..
Bersuka lah walau dalam lipatan garis wajahmu terselip duka..
Sebab untuk itulah perjuanganmu..
Bahagiaku adalah bahagiamu..
Dan lewat jiwamu, jiwaku hidup..
Apakah aku??
Sebongkah batu dan sia-sia tanpamu..
Trimakasih,,
Karena itulah kau dikenang..
Satuhal yang saya dapatkan dalam kehidupan saya. Betapa mudahnya mencintai orang lain. Tapi tak semudah itu kita mendapat balasannya. Hidup seorang petani telah membuat saya terinspirasi untuk membangun menara dalam hidup saya. Menara kokoh hingga ujung langit tempat cita-cita saya menggantung. Sikap tekun dan semangat yang tinggi mampu membuat harapan seorang petani yang kecil terus berkembang besar. Walau sebenarnya Indonesia adalah negara Agraris tapi penghargaan terhadap agraria di Indonesia sendiri kurang. Bahkan tidak ada. Saya terus melihat hidup yang sederhana seperti ini bukan hanya sebagai penderitaan, tetapi lebih pada pembelajaran hidup yang selalu bergantung pada roda kehidupan. Harapan saya semoga mereka selalu terkenang dalam hati. Karena pengorbanan yang mereka berikan tidak kecil.
Langgan:
Entri (Atom)